Tampilkan postingan dengan label sosiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosiologi. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Juli 2009

Teori-teori Sosial

beberapa teori sosial yang berkaitan
dengan masalah-masalah sosial antara lain teori Fungsional Struktural, teori
Konflik dan teori Sistem.

a. Teori Fungsional Struktural



Menurut teori Fungsional Struktural, masyarakat sebagai
suatu sistem memiliki struktur yang terdiri dari banyak lembaga, di mana
masing-masing lembaga mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Lembaga-lembaga itu
antara lain lembaga sekolah, lembaga keagamaan, lembaga ekonomi, lembaga
politik, lembaga sosial, lembaga kebudayaan, lembaga hukum, lembaga keluarga
dan sebagainya yang semuanya saling berkaitan satu dengan yang lain. Apabila
ada ketidakseimbangan diantara lembaga-lembaga tersebut, maka fungsi lembaga
itu akan terganggu.



b. Teori Konflik



Teori konflik memandang masyarakat sebagai suatu arena
dimana antara kelompok yang satu dengan yang lain saling berebut, misalnya
berebut kekuasaan. Apabila golongan fungsional melihat undang-undang sebagai
jalan untuk meningkatkan integrasi sosial, maka teori konflik akan memandang
undang-undang itu sebagai suatu bentuk aturan yang akan menguntungkan salah
satu kelompok saja. Jadi teori konflik tidak memusatkan perhatiannya pada
keseimbangan, adanya saling ketergantungan, dan adanya kerjasama antara bagian
yang satu dengan bagian yang lain. Biasanya konflik sosial itu muncul dalam
masyarakat karena memperebutkan kekuasaan, prestise, dan kekayaan.



c. Teori Sistem



Teori sistem banyak digunakan oleh para sosiolog, diantaranya
oleh Auguste Comte. Comte mengatakan bahwa masyarakat itu seperti organisme
hidup. Tumbuh dan berkembangnya masyarakat berlaku seperti konsep sistem,
sehingga masyarakat itu terus berlangsung dan dapat bertahan sebagaimana
kelangsungan hidup organisme. Setiap bagian unsur saling mempengaruhi, saling
memerlukan, saling mengisi, saling melengkapi dalam satu kesatuannya. Jadi ada
saling ketergantungan antara bagian yang satu dengan bagian yang lain.

http://iskandar-1108.blog.friendster.com/2008/03/baru-coy/

Continue lendo >>

Pitirim Sorokin


Pitirim Alexandrovich Sorokin (Rusia: Питирим Александрович Сорокин) (21 Januari, 1889 - Februari 11, 1968) adalah seorang Rusia-Amerika sosiolog. Academic and political activist in Russia, he emigrated from Russia to the United States in 1923. Akademis dan aktivis politik di Rusia, ia berhijrah dari Rusia ke Amerika Serikat pada tahun 1923. He founded the Department of Sociology at Harvard University . Ia mendirikan Departemen Sosiologi di Harvard University. Like CW Mills , he was a vocal opponent of Talcott Parsons ' theories. Seperti CW Mills, dia adalah lawan yang vokal Talcott Parsons' teori. He is best known for his contributions to the social cycle theory . Dia adalah yang terbaik dikenal untuk kontribusi kepada teori siklus sosial.
Biografi

Supporting himself as artisan and clerk, he was able to study at the University of St. Petersburg and to teach sociology. Mendukung dirinya sebagai Artisan dan kerani, ia dapat belajar di University of St Petersburg dan mengajar sosiologi. Sorokin was imprisoned three times by the czarist regime of Russian Empire ; during the Russian Revolution he was a member of Alexander Kerensky 's Russian Provisional Government . Sorokin telah dipenjarakan tiga kali oleh rezim czarist dari Rusia Empire; selama Revolusi Rusia dia adalah seorang anggota Alexander Kerensky 's Rusia Provisional Pemerintah. After the October Revolution he engaged in anti- Communist activities, for which he was condemned to death by the victorious Communist government; the sentence was commuted to exile . Setelah Revolusi Oktober dia terlibat dalam anti-Komunis kegiatan yang ia dikutuk sampai mati oleh pemerintah komunis yang menang; kalimat itu commuted ke pengasingan. He emigrated in 1923 to the United States and was naturalized in 1930. Dia berhijrah pada tahun 1923 ke Amerika Serikat dan telah naturalized tahun 1930. Sorokin was professor of sociology at the University of Minnesota (1924–30) and at Harvard University (1930–55), where he founded the Department of Sociology. Sorokin adalah profesor dari sosiologi di University of Minnesota (1924-30) dan di Harvard University (1930-55), di mana ia mendirikan Departemen Sosiologi.

Karya

His writings cover the breadth of sociology; his controversial theories of social process and of the historical typology of cultures are expounded in Social and Cultural Dynamics (4 vol., 1937–41; rev. and abridged ed. 1957) and many other works. Tulisannya mencakup berbagai sosiologi; kontroversial itu teori proses sosial dan sejarah budaya yang tipologi expounded di Dinamika Sosial dan Budaya (4 vol., 1937-41; rev. Ringkasan dan ed. 1957) dan banyak karya lainnya. He was also interested in social stratification , the history of sociological theory , and altruistic behavior . Dia juga tertarik dalam stratifikasi sosial, maka sejarah sosiologis teori, dan perilaku altruistis.

Sorokin is author of books such as The crisis of our age and Power and morality , but his magnum opus is Social and Cultural Dynamics (1937-1941). Sorokin adalah penulis buku seperti The krisis kami usia dan Power dan moralitas, namun ia magnum opus adalah Dinamika Sosial dan Budaya (1937-1941). His unorthodox theories contributed to the social cycle theory and inspired (or alienated) many sociologists. Teori nya tdk lazim kontribusi kepada teori siklus sosial dan terinspirasi (atau alienated) sociologists banyak.

In his Social and Cultural Dynamics he classified societies according to their 'cultural mentality', which can be ideational (reality is spiritual), sensate (reality is material), or idealistic (a synthesis of the two). Di Dinamika Sosial Budaya dan dia tergolong masyarakat sesuai dengan 'mentalitas budaya', yang dapat ideational (realitas adalah rohani), merasa (kenyataannya bahan), atau idealistis (sebuah sintesis dari dua). He suggested that major civilizations evolve through these three in turn: ideational, idealistic, sensate. Dia menyarankan agar besar peradaban berkembang melalui tiga pada gilirannya: ideational, idealistis, merasa. Each of these phases of cultural development not only seeks to describe the nature of reality, but also stipulates the nature of human needs and goals to be satisfied, the extent to which they should be satisfied, and the methods of satisfaction. Setiap tahapan pembangunan kebudayaan bukan hanya berusaha untuk menjelaskan sifat dari kenyataan, tetapi juga menegaskan sifat manusia kebutuhan dan tujuan yang akan puas, di mana mereka harus puas, dan metode kepuasan. Sorokin has interpreted the contemporary Western civilisation as a sensate civilisation dedicated to technological progress and prophesied its fall into decadence and the emergence of a new ideational or idealistic era. Sorokin telah diinterpretasikan kontemporer peradaban Barat sebagai peradaban merasa didedikasikan untuk kemajuan teknologi dan dinubuatkan yang jatuh ke dalam keadaan mundur dan munculnya baru ideational atau idealistis era.

Sorokin dari kertas yang saat ini dipegang oleh Universitas Saskatchewan di Saskatoon, Kanada yang tersedia bagi masyarakat.


http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Pitirim_Sorokin&ei=pdhjStLHHcyWkAWIrPj9Dw&sa=X&oi=translate&resnum=2&ct=result&prev=/search%3Fq%3DPitirim%2BA.%2BSorokin%26hl%3Did%26sa%3DG

Continue lendo >>

Minggu, 19 Juli 2009

Charles A. Ellwood


Charles A. Ellwood (20 Januari 1873 - 25 September 1946) adalah salah satu pemimpin Amerika sociologists dari periode interwar, belajar intoleransi, komunikasi dan revolutions, dan alat-alat Mempekerjakan saudara dari ilmu sosial dari psikologi dan antropologi. Dia berpendapat bahwa sosiologi harus memainkan peran penting dalam evolusi steering budaya masyarakat melalui pendidikan. Dia adalah seorang penulis dari banyak artikel dan buku, yang keempatbelas presiden Amerika sosiologis Masyarakat presiden Amerika sosiologis Association pada tahun 1924. Ia menghabiskan 30 tahun pertama dari karirnya dan bangkit untuk kepentingan nasional di University of Missouri-Columbia sebelum 15 tahun masa jabatan di Duke University.
Kutipan dari biografi di Universitas Missouri (MU) Sosiologi website reads:

Charles Ellwood adalah dari era dalam sosiologi yang telah muncul sebagai berbeda bidang studi dibezakan dari filosofi, politik, ekonomi, agama, dan bidang lainnya. Ellwood defended ilmiah dari konsep sosiologi, namun ia juga berpendapat bahwa sosiologi harus alamat masalah sosial dan memberikan kontribusi langsung kepada reformasi sosial. His moral dan agama convictions makan itu langsung ke dalam sosiologi. Belakangan, beberapa advokat yang lebih ilmiah sosiologi akan mengklasifikasikan ulama seperti Ellwood sebagai "do-gooders" yang diselenggarakan sosiologi kembali dari ambisi-ambisi ilmiah. Ellwood menulis buku yang berpengaruh pada Masalah Sosial yang terjual lebih dari 200.000 eksemplar dan membentuk model untuk masalah sosial kursus di seluruh Indonesia. Tesis dan disertasi topik di Ellwood dari MU di masa yang sebagian besar difokuskan pada masalah sosial termasuk kemiskinan dan kesenjangan ras di Columbia Missouri dan kota-kota lainnya. Salah seorang siswa, Terence Pihlblad, baik itu yang diperoleh MA dan Ph.D. di Missouri dan kemudian bergabung dengan MU departemen sebagai profesor, yang bekerja dalam kapasitas yang kecil interupsi, dalam tahun 1970-an. Pihlblad dari promotor, selesai tahun 1925 di bawah Ellwood dari arah, yang kemudian dikritik-populer bahwa intelijen tes dapat digunakan untuk menentukan kelompok ras dan etnis yang unggul. Pihlblad bahwa intelijen ujian mencerminkan nilai sosial dan latar belakang pendidikan bukan asli intelijen.

J event tragis di tahun 1920 (recounted oleh pensiunan eksekutif bisnis, Bob Beasley, di Centennial Symposium diselenggarakan oleh Departemen Sosiologi pada bulan September 2000) menggambarkan jenis publik kontroversi yang sering terkena MU sosiologi sejak tahun 1920. Pada tahun 1923 Black muda itu lynched di Columbia setelah terdakwa palsu dari serangan seksual terhadap perempuan muda putih. Dia digantun dari atas jembatan jalan utama dijalankan oleh MU kampus. Di setelah acara, menurut laporan dari Beasley, Charles Ellwood adalah vokal, kritik dari masyarakat dan lynching dari warga setempat untuk memungkinkan hal itu terjadi di Columbia. Ellwood menjadi target Ku Klux Klan ancaman lokal dan banyak darah. Dalam jangka waktu yang sama, Terry Pihlblad harus telah menulis kepada kritik dari penggunaan intelijen tes untuk menentukan keunggulan ras dan etnis. Selain itu, Herbert Blumer, kemudian menjadi menonjol sosiolog di University of Chicago dan University of California di Berkeley, yang menyelesaikan gelar MA di MU pada tahun 1925 dan tinggal selama beberapa tahun sebagai seorang guru. Dia menjadi sasaran kritikan masyarakat sekitar 1927 untuk menyarankan dalam kuliah tamu di Stephens College bahwa tidak ada murni ras, satu titik yang Ellwood dan Pihlblad argumentasi yang baik dalam tulisan-tulisan mereka.

sumber : wikipedia


Continue lendo >>

Sabtu, 18 Juli 2009

Definisi Sosiologi

Berikut ini definisi-definisi sosiologi yang dikemukakan beberapa ahli.
* Pitirim Sorokin

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.

* Roucek dan Warren

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok.

* William F. Ogburn dan Mayer F. Nimkopf

Sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya, yaitu organisasi sosial.

* J.A.A Von Dorn dan C.J. Lammers

Sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil.

* Max Weber

Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial.

* Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi

Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.

* Paul B. Horton

Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut.

* Soejono Sukamto

Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.

* William Kornblum

Sosiologi adalah suatu upaya ilmiah untuk mempelajari masyarakat dan perilaku sosial anggotanya dan menjadikan masyarakat yang bersangkutan dalam berbagai kelompok dan kondisi.

* Allan Jhonson

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan dan perilaku, terutama dalam kaitannya dengan suatu sistem sosial dan bagaimana sistem tersebut mempengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat didalamnya mempengaruhi sistem tersebut.

Dari berbagai definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa :
“ Sosiologi adalah ilmu yang membicarakan apa yang sedang terjadi saat ini, khususnya pola-pola hubungan dalam masyarakat serta berusaha mencari pengertian-pengertian umum, rasional, empiris serta bersifat umum

http://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi

Continue lendo >>

Sosiologi

Sosiologi merupakan sebuah istilah yang berasal dari kata latin socius yang artinya teman, dan logos dari kata Yunani yang berarti cerita, diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul "Cours De Philosophie Positive" karangan August Comte (1798-1857). Sosiologi muncul sejak ratusan, bahkan ribuan tahun yang lalu. Namun sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari masyarakat baru lahir kemudian di Eropa.
Sejak awal masehi hingga abad 19, Eropa dapat dikatakan menjadi pusat tumbuhnya peradaban dunia, para ilmuwan ketika itu mulai menyadari perlunya secara khusus mempelajari kondisi dan perubahan sosial. Para ilmuwan itu kemudian berupaya membangun suatu teori sosial berdasarkan ciri-ciri hakiki masyarakat pada tiap tahap peradaban manusia.

Dalam buku itu, Comte menyebutkan ada tiga tahap perkembangan intelektual, yang masing-masing merupakan perkembangan dari tahap sebelumya.

Tiga tahapan itu adalah :



1. Tahap teologis; adalah tingkat pemikiran manusia bahwa semua benda di dunia mempunyai jiwa dan itu disebabkan oleh suatu kekuatan yang berada di atas manusia.
2. Tahap metafisis; pada tahap ini manusia menganggap bahwa didalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang pada akhirnya akan dapat diungkapkan. Oleh karena adanya kepercayaan bahwa setiap cita-cita terkait pada suatu realitas tertentu dan tidak ada usaha untuk menemukan hukum-hukum alam yang seragam.
3. Tahap positif; adalah tahap dimana manusia mulai berpikir secara ilmiah.

Comte kemudian membedakan antara sosiologi statis dan sosiologi dinamis. Sosiologi statis memusatkan perhatian pada hukum-hukum statis yang menjadi dasar adanya masyarakat. Sosiologi dinamis memusatkan perhatian tentang perkembangan masyarakat dalam arti pembangunan.oe

Rintisan Comte tersebut disambut hangat oleh masyarakat luas, tampak dari tampilnya sejumlah ilmuwan besar di bidang sosiologi. Mereka antara lain Herbert Spencer, Karl Marx, Emile Durkheim, Ferdinand Tönnies, Georg Simmel, Max Weber, dan Pitirim Sorokin(semuanya berasal dari Eropa). Masing-masing berjasa besar menyumbangkan beragam pendekatan mempelajari masyarakat yang amat berguna untuk perkembangan Sosiologi.

* Herbert Spencer memperkenalkan pendekatan analogi organik, yang memahami masyarakat seperti tubuh manusia, sebagai suatu organisasi yang terdiri atas bagian-bagian yang tergantung satu sama lain.
* Karl Marx memperkenalkan pendekatan materialisme dialektis, yang menganggap konflik antar-kelas sosial menjadi intisari perubahan dan perkembangan masyarakat.
* Emile Durkheim memperkenalkan pendekatan fungsionalisme yang berupaya menelusuri fungsi berbagai elemen sosial sebagai pengikat sekaligus pemelihara keteraturan sosial.
* Max Weber memperkenalkan pendekatan verstehen (pemahaman), yang berupaya menelusuri nilai, kepercayaan, tujuan, dan sikap yang menjadi penuntun perilaku manusia..
http://id.wikipedia.org/wiki/Sosiologi

Continue lendo >>

Kamis, 16 Juli 2009

Tokoh Sosiologi - Herbert Spencer





Pribadi Spencer
1. Lahir di Derby Inggris 27 April 1820
2. Ayah Spencer seorang guru
3. Spencer dalam hidupnya sukar diajak bergaul dan selalu menempatkan dirinya terhadap nilai – nilai budaya dalam masyarakat
4. Spencer memulai karirnya sebagai seorang wartawan atau pengarang yang mempunyai pemikiran atau penafsiran yang alami danilmiah
5. Ia meninggal pada tahun 1903 Di kota Brighton pada tangal 8 Desember

Perspektif dan Pemikiran Sosiologi Spencer
Evolusi masyarakat
1. Teori Spencer mengenai evolusi masyarakat mempunyai kesamaan dari evolusi yang terjadi pada umumnya
2. Spencer melihat pengertian masyarakat sebagai organisme dilihat dari positivis dan deterministis yang semua gejala social diterangkan berdasarkan suatu penentuan ileh hukum alam

Tipe – Tipe Sosial
1. Spencer membuat suatu pengelompokan tipe masyarakat berdasarkan ciri – ciri mereka yang dibagi menjadi dua, yaitu masyarakat militant (Adalah orang yang bersikap agresif yang punya kerja produktif untuk memenuhi kebutuhan mereka dimana tipe masyarakat ini berada dibawah kepemimpinan orang yang kuat atau mahir dibidang peperangan atau pertempuran, guna mengendalikan situasi masayrakat pada masa itu) dan masyarakat industri (Adalah masyarakat dimana kerja produktifnya dengan cara damai atas ekspedisi – ekspedisi perang, yang mempunyai ciri – cirri adanya sebuah demokrasi, adanya kontak kerja, liberaslisme dalam memilih agama dan otonomi individu)
2. Kedua tipe diatas dianggap sebagai ideal types

Persamaan Masyarakat militant dan industri
· Masyarakat militant dan industri sama – sama didalamnya terdapat masyarakat yang bekerja produktif untuk memnuhi kebutuhan mereka dan sama – sama melakukan pengukuran dari sisi kekuasaan dalam peperangan atau pertempuran
Perbedaan Masyarakat militant dan industri
· Masyarakat militant dan Industri; masyarakat militant lebih cenderung menggunakan kekuasaan fisik dan bersifat absolut dalam mepertahankan kekuasaannya sedangkan masyarakat Industri lebih cenderung cinta damai dan adanya demokrasi yang tinggi

Continue lendo >>

Tokoh Sosiologi - David Emile Durkheim


David Émile Durkheim (15 April 1858 - 15 November 1917) dikenal sebagai salah satu pencetus sosiologi modern. Ia mendirikan fakultas sosiologi pertama di sebuah universitas Eropa pada 1895, dan menerbitkan salah satu jurnal pertama yang diabdikan kepada ilmu sosial, L'Année Sociologique pada 1896.


Biografi
Durkheim dilahirkan di Épinal, Prancis, yang terletak di Lorraine. Ia berasal dari keluarga Yahudi Prancis yang saleh - ayah dan kakeknya adalah Rabi. Hidup Durkheim sendiri sama sekali sekular. Malah kebanyakan dari karyanya dimaksudkan untuk membuktikan bahwa fenomena keagamaan berasal dari faktor-faktor sosial dan bukan ilahi. Namun demikian, latar belakang Yahudinya membentuk sosiologinya - banyak mahasiswa dan rekan kerjanya adalah sesama Yahudi, dan seringkali masih berhubungan darah dengannya.
Durkheim adalah mahasiswa yang cepat matang. Ia masuk ke École Normale Supérieure pada 1879. Angkatannya adalah salah satu yang paling cemerlang pada abad ke-19 dan banyak teman sekelasnya, seperti Jean Jaurès dan Henri Bergson kemudian menjadi tokoh besar dalam kehidupan intelektual Prancis. Di ENS Durkheim belajar di bawah Fustel de Coulanges, seorang pakar ilmu klasik, yang berpandangan ilmiah sosial. Pada saat yang sama, ia membaca karya-karya Auguste Comte dan Herbert Spencer. Jadi, Durkheim tertarik dengan pendekatan ilmiah terhadap masyarakat sejak awal kariernya. Ini adalah konflik pertama dari banyak konflik lainnya dengan sistem akademik Prancis, yang tidak mempunyai kurikulum ilmu sosial pada saat itu. Durkheim merasa ilmu-ilmu kemanusiaan tidak menarik. Ia lulus dengan peringkat kedua terakhir dalam angkatannya ketika ia menempuh ujian agrégation – syarat untuk posisi mengajar dalam pengajaran umum – dalam ilmu filsafat pada 1882.
Minat Durkheim dalam fenomena sosial juga didorong oleh politik. Kekalahan Prancis dalam Perang Prancis-Prusia telah memberikan pukulan terhadap pemerintahan republikan yang sekular. Banyak orang menganggap pendekatan Katolik, dan sangat nasionalistik sebagai jalan satu-satunya untuk menghidupkan kembali kekuasaan Prancis yang memudar di daratan Eropa. Durkheim, seorang Yahudi dan sosialis, berada dalam posisi minoritas secara politik, suatu situasi yang membakarnya secara politik. Peristiwa Dreyfus pada 1894 hanya memperkuat sikapnya sebagai seorang aktivis.
Seseorang yang berpandangan seperti Durkheim tidak mungkin memperoleh pengangkatan akademik yang penting di Paris, dan karena itu setelah belajar sosiologi selama setahun di Jerman, ia pergi ke Bordeaux pada 1887, yang saat itu baru saja membuka pusat pendidikan guru yang pertama di Prancis. Di sana ia mengajar pedagogi dan ilmu-ilmu sosial (suatu posisi baru di Prancis). Dari posisi ini Durkheim memperbarui sistem sekolah Prancis dan memperkenalkan studi ilmu-ilmu sosial dalam kurikulumnya. Kembali, kecenderungannya untuk mereduksi moralitas dan agama ke dalam fakta sosial semata-mata membuat ia banyak dikritik.
Tahun 1890-an adalah masa kreatif Durkheim. Pada 1893 ia menerbitkan “Pembagian Kerja dalam Masyarakat”, pernyataan dasariahnya tentang hakikat masyarakat manusia dan perkembangannya. Pada 1895 ia menerbitkan “Aturan-aturan Metode Sosiologis”, sebuah manifesto yang menyatakan apakah sosiologi itu dan bagaimana ia harus dilakukan. Ia pun mendirikan Jurusan Sosiologi pertama di Eropa di Universitas Bourdeaux. Pada 1896 ia menerbitkan jurnal L'Année Sociologique untuk menerbitkan dan mempublikasikan tulisan-tulisan dari kelompok yang kian bertambah dari mahasiswa dan rekan (ini adalah sebutan yang digunakan untuk kelompok mahasiswa yang mengembangkan program sosiologinya). Dan akhirnya, pada 1897, ia menerbitkan “Bunuh Diri”, sebuah studi kasus yang memberikan contoh tentang bagaimana bentuk sebuah monograf sosiologi.
Pada 1902 Durkheim akhirnya mencapai tujuannya untuk memperoleh kedudukan terhormat di Paris ketika ia menjadi profesor di Sorbonne. Karena universitas-universitas Prancis secara teknis adalah lembaga-lembaga untuk mendidik guru-guru untuk sekolah menengah, posisi ini memberikan Durkheim pengaruh yang cukup besar – kuliah-kuliahnya wajib diambil oleh seluruh mahasiswa. Apapun pendapat orang, pada masa setelah Peristiwa Dreyfus, untuk mendapatkan pengangkatan politik, Durkheim memperkuat kekuasaan kelembagaannya pada 1912 ketika ia secara permanen diberikan kursi dan mengubah namanya menjadi kursi pendidikan dan sosiologi. Pada tahun itu pula ia menerbitkan karya besarnya yang terakhir “Bentuk-bentuk Elementer dari Kehidupan Keagamaan”.
Perang Dunia I mengakibatkan pengaruh yang tragis terhadap hidup Durkheim. Pandangan kiri Durkheim selalu patriotik dan bukan internasionalis – ia mengusahakan bentuk kehidupan Prancis yang sekular, rasional. Tetapi datangnya perang dan propaganda nasionalis yang tidak terhindari yang muncul sesudah itu membuatnya sulit untuk mempertahankan posisinya. Sementara Durkheim giat mendukung negarainya dalam perang, rasa enggannya untuk tunduk kepada semangat nasionalis yang sederhana (ditambah dengan latar belakang Yahudinya) membuat ia sasaran yang wajar dari golongan kanan Prancis yang kini berkembang. Yang lebih parah lagi, generasi mahasiswa yang telah dididik Durkheim kini dikenai wajib militer, dan banyak dari mereka yang tewas ketika Prancis bertahan mati-matian. Akhirnya, René, anak laki-laki Durkheim sendiri tewas dalam perang – sebuah pukulan mental yang tidak pernah teratasi oleh Durkheim. Selain sangat terpukul emosinya, Durkheim juga terlalu lelah bekerja, sehingga akhirnya ia terkena serangan lumpuh dan meninggal pada 1917.

Teori dan gagasan
Perhatian Durkheim yang utama adalah bagaimana masyarakat dapat mempertahankan integritas dan koherensinya di masa modern, ketika hal-hal seperti latar belakang keagamaan dan etnik bersama tidak ada lagi. Untuk mempelajari kehidupan sosial di kalangan masyarakat modern, Durkheim berusaha menciptakan salah satu pendekatan ilmiah pertama terhadap fenomena sosial. Bersama Herbert Spencer Durkheim adalah salah satu orang pertama yang menjelaskan keberadaan dan sifat berbagai bagian dari masyarakat dengan mengacu kepada fungsi yang mereka lakukan dalam mempertahankan kesehatan dan keseimbangan masyarakat – suatu posisi yang kelak dikenal sebagai fungsionalisme.
Durkheim juga menekankan bahwa masyarakat lebih daripada sekadar jumlah dari seluruh bagiannya. Jadi berbeda dengan rekan sezamannya, Max Weber, ia memusatkan perhatian bukan kepada apa yang memotivasi tindakan-tindakan dari setiap pribadi (individualisme metodologis), melainkan lebih kepada penelitian terhadap "fakta-fakta sosial", istilah yang diciptakannya untuk menggambarkan fenomena yang ada dengan sendirinya dan yang tidak terikat kepada tindakan individu. Ia berpendapat bahwa fakta sosial mempunyai keberadaan yang independen yang lebih besar dan lebih objektif daripada tindakan-tindakan individu yang membentuk masyarakat dan hanya dapat dijelaskan melalui fakta-fakta sosial lainnya daripada, misalnya, melalui adaptasi masyarakat terhadap iklim atau situasi ekologis tertentu.
Dalam bukunya “Pembagian Kerja dalam Masyarakat” (1893), Durkheim meneliti bagaimana tatanan sosial dipertahankan dalam berbagai bentuk masyarakat. Ia memusatkan perhatian pada pembagian kerja, dan meneliti bagaimana hal itu berbeda dalam masyarakat tradisional dan masyarakat modern[1]. Para penulis sebelum dia seperti Herbert Spencer dan Ferdinand Toennies berpendapat bahwa masyarakat berevolusi mirip dengan organisme hidup, bergerak dari sebuah keadaan yang sederhana kepada yang lebih kompleks yang mirip dengan cara kerja mesin-mesin yang rumit. Durkheim membalikkan rumusan ini, sambil menambahkan teorinya kepada kumpulan teori yang terus berkembang mengenai kemajuan sosial, evolusionisme sosial, dan darwinisme sosial. Ia berpendapat bahwa masyarakat-masyarakat tradisional bersifat ‘mekanis’ dan dipersatukan oleh kenyataan bahwa setiap orang lebih kurang sama, dan karenanya mempunyai banyak kesamaan di antara sesamanya. Dalam masyarakat tradisional, kata Durkheim, kesadaran kolektif sepenuhnya mencakup kesadaran individual – norma-norma sosial kuat dan perilaku sosial diatur dengan rapi.
Dalam masyarakat modern, demikian pendapatnya, pembagian kerja yang sangat kompleks menghasilkan solidaritas 'organik'. Spesialisasi yang berbeda-beda dalam bidang pekerjaan dan peranan sosial menciptakan ketergantungan yang mengikat orang kepada sesamanya, karena mereka tidak lagi dapat memenuhi seluruh kebutuhan mereka sendiri. Dalam masyarakat yang ‘mekanis’, misalnya, para petani gurem hidup dalam masyarakat yang swa-sembada dan terjalin bersama oleh warisan bersama dan pekerjaan yang sama. Dalam masyarakat modern yang 'organik', para pekerja memperoleh gaji dan harus mengandalkan orang lain yang mengkhususkan diri dalam produk-produk tertentu (bahan makanan, pakaian, dll) untuk memenuhi kebutuhan mereka. Akibat dari pembagian kerja yang semakin rumit ini, demikian Durkheim, ialah bahwa kesadaran individual berkembang dalam cara yang berbeda dari kesadaran kolektif – seringkali malah berbenturan dengan kesadaran kolektif.
Durkheim menghubungkan jenis solidaritas pada suatu masyarakat tertentu dengan dominasi dari suatu sistem hukum. Ia menemukan bahwa masyarakat yang memiliki solidaritas mekanis hokum seringkali bersifat represif: pelaku suatu kejahatan atau perilaku menyimpang akan terkena hukuman, dan hal itu akan membalas kesadaran kolektif yang dilanggar oleh kejahatan itu; hukuman itu bertindak lebih untuk mempertahankan keutuhan kesadaran. Sebaliknya, dalam masyarakat yang memiliki solidaritas organic, hukum bersifat restitutif: ia bertujuan bukan untuk menghukum melainkan untuk memulihkan aktivitas normal dari suatu masyarakat yang kompleks.
Jadi, perubahan masyarakat yang cepat karena semakin meningkatnya pembagian kerja menghasilkan suatu kebingungan tentang norma dan semakin meningkatnya sifat yang tidak pribadi dalam kehidupan sosial, yang akhirnya mengakibatkan runtuhnya norma-norma sosial yang mengatur perilaku. Durkheim menamai keadaan ini anomie. Dari keadaan anomie muncullah segala bentuk perilaku menyimpang, dan yang paling menonjol adalah bunuh diri.
Durkheim belakangan mengembangkan konsep tentang anomie dalam "Bunuh Diri", yang diterbitkannya pada 1897. Dalam bukunya ini, ia meneliti berbagai tingkat bunuh diri di antara orang-orang Protestan dan Katolik, dan menjelaskan bahwa kontrol sosial yang lebih tinggi di antara orang Katolik menghasilkan tingkat bunuh diri yang lebih rendah. Menurut Durkheim, orang mempunyai suatu tingkat keterikatan tertentu terhadap kelompok-kelompok mereka, yang disebutnya integrasi sosial. Tingkat integrasi sosial yang secara abnormal tinggi atau rendah dapat menghasilkan bertambahnya tingkat bunuh diri: tingkat yang rendah menghasilkan hal ini karena rendahnya integrasi sosial menghasilkan masyarakat yang tidak terorganisasi, menyebabkan orang melakukan bunuh diri sebagai upaya terakhir, sementara tingkat yang tinggi menyebabkan orang bunuh diri agar mereka tidak menjadi beban bagi masyarakat. Menurut Durkheim, masyarakat Katolik mempunyai tingkat integrasi yang normal, sementara masyarakat Protestan mempunyai tingat yang rendah. Karya ini telah mempengaruhi para penganjur teori kontrol, dan seringkali disebut sebagai studi sosiologis yang klasik.
Akhirnya, Durkheim diingat orang karena karyanya tentang masyarakat 'primitif' (artinya, non Barat) dalam buku-bukunya seperti "Bentuk-bentuk Elementer dari Kehidupan Agama" (1912) dan esainya "Klasifikasi Primitif" yang ditulisnya bersama Marcel Mauss. Kedua karya ini meneliti peranan yang dimainkan oleh agama dan mitologi dalam membentuk pandangan dunia dan kepribadian manusia dalam masyarakat-masyarakat yang sangat 'mekanis' (meminjam ungkapan Durkheim)


http://perpustakaan-online.blogspot.com/2008/04/tokoh-sosiologi-david-emile-durkheim.html

Continue lendo >>

Tokoh Sosiologi Modern Ibnu Khaldun


IBNU Khaldun mencetus pemikiran baru apabila menyatakan sistem sosial manusia berubah mengikut kemampuannya berfikir, keadaan muka bumi persekitaran mereka, pengaruh iklim, makanan, emosi serta jiwa manusia itu sendiri.

Beliau juga berpendapat institusi masyarakat berkembang mengikut tahapnya dengan tertib bermula dengan tahap primitif, pemilikan, diikuti tahap peradaban dan kemakmuran sebelum tahap kemunduran.

Pandangan Ibnu Khaldun dikagumi tokoh sejarah berketurunan Yahudi, Prof Emeritus Dr Bernerd Lewis yang menyifatkan tokoh ilmuwan itu sebagai ahli sejarah Arab yang hebat pada zaman pertengahan.

Felo Amat Utama Akademik Institut Antarabangsa Pemikiran dan Ketamadunan (Istac), Universiti Islam Antarabangsa Malaysia (UIAM), Muhammad Uthman El-Muhammady pula melihat pendekatan Ibnu Khaldun secara sejagat.

Sumbangan Ibu Khaldun, perintis ilmu sosiologi moden dapat disaksikan melalui siri Ilmuwan Islam di TV3, malam ini.

Episod kali ini yang diterbitkan Mohd Fasil Mohd Idris, bakal membawa penonton mengenali lebih dekat ilmuwan kelahiran Tunisia yang banyak menghasilkan karya untuk rujukan umat Islam dan bangsa lain masa kini.

Dilahirkan di Tunisia, keluarga Ibnu Khaldun sebenarnya berasal dari wilayah Seville, Sepanyol, ketika dalam pemerintahan Islam.

Ketika zaman kanak-kanak, beliau mempelajari al-Quran daripada orang tuanya sebelum melanjutkan pengajian ke peringkat tinggi sambil dibantu sejarawan dan ulama Tunisia serta Sepanyol.

Pada 1375, beliau berhijrah ke Granada, Sepanyol kerana mahu melarikan diri daripada kerajaan di Afrika Utara.

Bagaimanapun, keadaan politik Granada tidak stabil, lantas mendorong beliau untuk merantau ke Aljazair (bahagian utara Semenanjung Tanah Arab). Di sini, beliau tinggal di kampung kecil iaitu Qalat Ibnu Salama.

Di situ juga beliau menghasilkan beberapa karya terkenal termasuk al Ibar Wa Diwan al-Mubtad Wa al-Khabar. Kitab ini mengandungi enam jilid dan paling terkenal, kitab Mukaddimah.

Sehingga kini kitab itu menjadi rujukan umat Islam, khususnya dalam ilmu kajian sosial, politik, falsafah dan sejarah.

Kitab Mukaddimah menghuraikan beberapa peristiwa dalam kehidupan masyarakat, proses pembentukan negara, faktor kemajuan serta kemunduran, selain menerangkan beberapa perkara yang berkaitan bidang perniagaan, perindustrian dan pertanian.

Karya Ibnu Khaldun yang menakjubkan itu membolehkan beliau digelar sebagai Prolegomena atau pengenalan kepada pelbagai ilmu perkembangan kehidupan manusia di kalangan ilmuwan Barat.

Dalam pada itu, Ibnu Khaldun mengutarakan pandangannya bagi memperbaiki kesilapan dalam kehidupan menjadikan karya beliau seumpama ensiklopedia yang mengisahkan pelbagai perkara dalam kehidupan sosial manusia.

Kajian yang dilakukan Ibnu Khaldun bukan hanya mencakupi kisah kehidupan masyarakat ketika itu, malah merangkumi sejarah umat terdahulu.

Selain sebagai ilmuwan dalam bidang sosial, Ibnu Khaldun, mampu mentadbir dengan baik apabila dilantik sebagai kadi ketika menetap di Mesir.

Kebijaksanaannya mendorong Sultan Burquq iaitu Sultan Mesir ketika itu memberi gelaran Waliyuddin kepada Ibnu Khaldun.

Ibnu Khaldun juga memajukan konsep ekonomi, perdagangan, kebebasan dan terkenal kerana hasil kerjanya dalam bidang sosiologi, astronomi, numerologi, kimia serta sejarah.

Beliau membangunkan idea bahawa tugas kerajaan hanya terhad kepada mempertahankan rakyatnya daripada keganasan, melindungi harta persendirian, menghalang penipuan dalam perdagangan dan menguruskan penghasilan wang.

Pemerintah juga melaksanakan kepemimpinan politik bijaksana dengan perpaduan sosial dan kuasa tanpa paksaan.

Dari segi ekonomi, Ibn Khaldun memajukan teori nilai dan hubung kaitnya dengan tenaga buruh, memperkenalkan pembahagian tenaga kerja, menyokong pasaran terbuka, menyedari kesan dinamik permintaan dan bekalan ke atas harga dan keuntungan.

Beliau turut menyokong perdagangan bebas dengan orang asing, dan percaya kepada kebebasan memilih bagi membenarkan rakyat bekerja keras untuk diri mereka sendiri.

Wacana atau pemikiran Ibnu Khaldun turut diterjemah ke dalam kehidupan masyarakat moden yang mahu mengimbangi pembangunan fizikal dan spiritual seperti Malaysia yang sedang menuju status negara maju.

Secara teorinya, ilmu itu dikaitkan dengan soal manusia dalam masyarakat dan ahli sosiologi berharap ilmu berkenan dapat menjalinkan perpaduan serta membentuk penawar kepada krisis moral yang dihadapi masyarakat hari ini.

Istilah sosiologi walaupun dicipta tokoh kelahiran Perancis abad ke-19, Aguste Comte, kajian mengenai kehidupan sosial manusia sudah dihurai oleh Ibnu Khaldun dalam kitabnya Muqaddimah, 500 tahun lebih awal, pada usianya 36 tahun



http://perpustakaan-online.blogspot.com/2008/04/tokoh-sosiologi-modern-ibnu-khaldun.html

Continue lendo >>

  ©Template Blogger Writer II by Dicas Blogger.

SUBIR